10 Desember 2010
Waktu itu pernah ketika aku menemani ‘temanku” menabung di salah satu bank swasta yang ada di kota ku. Saat itu aku duduk sendiri diruang tunggu sementara teman ku mengurus keperluannya. Mengisi waktu menunggu ku habiskan dengan membaca beberapa brosur tawaran yang terpajang disana. Setelah bosan membaca brosur yang notabene penawaran pinjaman itu, akhirnya ku keluarkan buku andalan bahasa inggris. Buku itu kadang hanya sebagai pengisi tas ku yang kosong saja, agar keliahatan lebih berisi dan intelek lah kira-kira. Sebenarnya terbesit juga dibenakku untuk memfasihkan bahasa Inggrisku yang masih seperti anak umur 3 tahun belajar berbicara. Menyedihkan,memang tapi mau bagaimana lagi di negeri yang mengutamakan pendidikan sebagai jargon utama kampanye ini, hanya memposisikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing bukan bahasa ke dua. Memang tidak salah, tetapi menjadi keliru ketika bahasa Inggris dipakai menjadi labelisasi ke elitan sebuah lembaga pendidikan. Inilah akibatnya kalau tinggal di Negara yang menjadi pengekor bangsa lain. Namun kendati demikian aku tetap bangga pada negeri yang gemah ripa loh jinawi ini, bukan Negara yang salah tetapi orang-orang didalam nya lah yang tidak begitu mengerti dan paham.
Nah kembali lagi pada cerita ku yang sedang nongkrong di bank swasta tadi, pada saat aku sedang asyik membaca buku bahasa Inggris ku itu (sampai satpam memiring-miringkan kepalanya untuk mengetahui buku apa yang ku baca, dan ku beri tahu kan bahwa buku yang ku baca berjudul “Modern English” silahkan cari di bazaar buku lama dan renta, I mean ‘tua’), masuk lah seorang kakek-kakek tua, kusut, tidak rapi, sedikit bersih, ompong, batuk-batuk, agak bungkuk, bersendal jepit, dan berjalan sedikit kaku. Semua deskripsi tadi bisa di akumulasikan bahwa defenisi keseluruhan dari kakek tersebut adalah lansia fakir! Lama ku lihat kakek itu, dan baru ku sadari bahwa itu adalah pertemuan ku ke dua dengan dia, setelah bertemu di rumah sakit saat sama-sama berobat di poli gigi. Kakek itu masuk dan langsung menyapa satpam bank yang sedang berjaga didepan pintu, mereka kelihatan begitu akrab dan saling bercanda. Ada sesuatu hal yang menarik dari kakek tersebut, tapi aku belum tahu apa. Setelah saling mengobrol kakek itu langsung melihat promo undian yang tertempel di sana. Sedang asyik melihat promo tersebut, ia kemudian bertanya kepada satpam “kapan kito dapat mobil tu?”, satpam pun menjawab “ sebentar lagi pak, cubo tengok dulu berapo saldo tu”. Dan kalau aku tidak salah dengar satpam itu melafazkan kurang lebih nominal 25 juta rupiah, aku sempat tercengang dan kaget, melihat kondisinya yang seperti tiu rasanya aku tidak percaya ia mampu menyimpan uang hingga nominal sekian. Memang bagi beberapa orang nominal tersebut tidak begitu berarti, tapi bagiku dan menurutku itu adalah jumlah yang cukup besar.
Lama aku berfikir bagaimana kakek itu mampu menabung hingga sampai nominal sebesar itu, orang-orang pun ku rasa juga tidak akan percaya. Karena melihat dari dandannya saja orang akan langsung under estimed, dan itu yang terjadi pada setiap kali pertemuan ku dengan kakek itu. Beberapa orang yang sedang duduk di kursi tunggu, tiba-tiba saja pergi dan tampak sekali menghindar dari kakek tersebut. Entah takut atau jijik, yang kurasa adalah dua-duanya membuat orang lain menjauh. Aku sempat melakukan hal tersebut, tetapi rasa penasaran ku mengalahkan kesombongan ku. Lantas ia duduk di sebelahku, kemudian aku memberikan senyuman kepadanya dan kami pun sempat mengobrol singkat. Sayangnya kami tidak sempat berbicara panjang lebar, dan itu sama sekali belum mengobati rasa penasaran ku. Sampai ahirnya kakek itu meninggalkan bank tersebut.
Rasa kagum berlomba-lomba dengan rasa penasaran ku, menyembul-nyembul di otak yang membuat ku pusing sendiri. Tak lama, ketika asyik berfikir datang teman yang membuyarkan lamunan ku. Kemudian ku ceritakan adegan yang baru saja terjadi, dengan senyum ia mengatakan “kakek itu berjualan minuman di pasar minggu, beliau nabung sudah lama, dari lembar-lembar ribuan. Hampir setiap hari ia menabungkan hasil jerih payahnya. Makanya dek, hemat-hemat, kakek itu saja bisa kenapa kita enggak”. Seketika kaki ku tiba-tiba saja rasanya mengeriput dan hati ku pun rasanya ngilu. Betapa tidak selama ini ku hambur-hamburkan saja uang yang aku punya dengan hal-hal yang bersifat hedonis, dan parahnya itu adalah uang hasil kucuran orang tua dan beasiswa yang seharusnya ku manfaat kan dengan sebaik-baiknya. God, aku merasa bersalah saat itu juga kepada orang tua ku, betapa banyak yang aku sia-sia kan selama ini. Maaf ma, pa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar